Glass Gem Corn, Jagung Warna-warni yang Dikembangkan Petani Cianjur

glass-gem-corn-jagung-warna-warni-yang-dikembangkan-petani-cianjur Glass gem corn, jenis jagung yang mulai coba dikembangkan petani di Indonesia. (Net)

PINDAINEWS, Bandung - Varietas dalam dunia pertanian semakin berkembang. Saat ini, sudah banyak aneka buah dan sayuran dengan keunikan tersendiri. Salah satunya, Glass Gem Corn, atau jagung berbulir warna-warni.

Dilihat sekilas, jagung itu terlihat seperti mainan karena warnanya yang beraneka macam. Namun itu adalah jagung sungguhan yang aman dikonsumsi. Warnanya memang tidak lazim. Sebab pada umumnya bulir jagung berwarna kuning, namun yang ini berbeda lantaran berwarna-warni.

Glass Gem Corn diciptakan oleh petani asal Amerika Serikat bernama Carl Barnes. Dilansir dari Daily Mail, Barnes mendapatkan ide untuk membudidayakan Glass Gem setelah melihat kejanggalan pada warna tongkol jagung hasil panennya.

Saat itu Barnes melihat warna terang dan bersinar dari tongkol jagung tersebut saat terkena sinar matahari. Setelahnya, ia mencoba untuk untuk membudidayakan jagung tersebut dengan melakukan persilangan. Setelah bertahun-tahun bereksperimen, ia pun berhasil memproduksi jagung dengan puluhan warna berbeda pada bulirnya.



Sebelum wafat pada 16 April 2016, Barnes yang sudah uzur meminta bantuan rekannya, Greg Schoen, untuk meneruskan usahanya tersebut. Schoen yang ingin usaha mendiang rekannya itu maju pesat kemudian memberikan biji jagung warna-warni itu kepada salah satu pemilik perusahaan penghasil biji tanaman di Arizona, Bill McDorman. Bill yang tertarik pun kemudian menjual biji jagung tersebut melalui online dan laris di pasaran.

Di Indonesia, ada juga petani yang sukses dalam pengembangbiakan Glass Gem Corn. Dia adalah Luki Lukmanulhakim, pria asal Cianjur, Jawa Barat. Seperti dilansir dari Kompas.com, Luki mampu menghasilkan 12 variasi warna baru dari empat jenis warna jagung yang ditanamnya.
 
Warna-warna yang dihasilkannya pun cukup mencolok mulai warna kuning corak kehitam-hitaman, biru tua, berwarna seperti mutiara, hingga mirip motif batik. 

“Saya mengoleksi plasma nutfah ini sudah sejak tahun 2000-an, sejak terjun menjadi petani. Lebih ke arah hobi dan idealisme untuk ikut melestarikan plasma nutfah sebagai sumberdaya genetik. Terlebih jenis tanaman lokal yang ternyata kualitasnya tidak kalah bagus terutama dalam rasa dan kandungan gizinya,” tutur Luki.

Editor: Mohamad Taufik

Komentar