2008-2018, Impor Produk TPT Melebihi Ekspor TPT

2008-2018-impor-produk-tpt-melebihi-ekspor-tpt . (ilustrasi/net)

PINDAINEWS, Bandung -- Anggapan bahwa negeri ini merupakan pasar potensial sepertinya terbukti. Satu contohnya, terlihat pada perkembangan produk tekstil dan industri tekstil (TPT) selama 1 dekade terakhir.

Meski memiliki kualitas yang tidak kalah oleh komoditas impor, produk TPT nasional kalah bersaing. Itu terjadi karena harga jual produk TPT impor yang lebih murah daripada produk TPT nasional.

Data Ikatan Ahli Tekstil seluruh Indonesia (Ikatsi) menunjukkan, rata-rata pertumbuhan ekspor TPT dalam satu dekade terakhir, (2008-2018), ekspor TPT nasional memang naik, yaitu 3 persen. Namun, grafik impor TPT jauh lebih tinggi, yaitu 10,4 persen. Akibatnya, neraca perdagangan terus tergerus, yang semula 6,08 miliar dolar AS menjadi 3,2 miliar dolar AS.

Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wiraswasta, menyatakan, konsumsi tekstil menunjukkan tren positif. Yaitu, sebut dia, yang semula 5,23 kilogram per kapita (2008) menjadi 8,13 persen pada 2018. Prediksinya, tren ini tumbuh hingga melebihi 12 kilogram per kapita setiap tahun.

Soal impor kain, Redma mengiyakan, bahwa kondisinya meningkat. "Impor kain naik, yang semula 300 ribu ton pada 2008, menjadi 900 ribu ton pada 2018. Sebaliknya, grafik ekspor garmen stagnan, yaitu berada pada level 550 juta ton selama 2008-2018," tutupnya.


Editor: Erwin Adriansyah

Komentar