Operasional PLTA Terdampak Kondisi Ini

operasional-plta-terdampak-kondisi-ini Kemarau berdampak pada susutnya waduk dan berdampak pada PLTA.. (Ilustrasi/net)

PINDAINEWS, Bandung -- Ternyata, kemarau berkepanjangan tidak hanya berdampak pada sektor pertanian. Akan tetapi, kondisi itu pun berefek pada pasokan energi listrik yang dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

"Tentu saja, kekeringan berdampak pada operasional PLTA," tandas Manager Sipil & Lngkungan PLTA Saguling, Novy pada sela-sela Media Gathering di PLTA Lumajan Pangelangan, Kabupaten Bandung.

Novy menjelaskan, kekeringan membuat ketinggian daya tampung waduk berkurang. Hal itu membuat operasional PLTA tidak maksimal. 

Pengoperasiannya, lanjut dia, pada masa beban puncak, yaitu periode pukul 17.00-22.00 setiap harinya. Sedangkan saat non-beban puncak, ujarnya, PLTA tidak beroperasi karena kapasitas airnya tidak mencukupi untuk menggerakkan turbin pembangkit.

Selain kekeringan, penebangan dan penggusuran hutan pada sektor hulu pun berpengaruh pada operasional PLTA. Dia menjelaskan, penebangan dan penggusuran itu membuat daya serap berkurang.

Saat hujan, tuturnya, air tidak terserap. Air, katanya, langsung mengalir pada sungai seraya membawa lumpur-lumpur. Hal itu, ujarnya, menyebabkan terjadinya sedimentasi, tidak hanya aliran sungai, tetapi juga waduk.

"Akibatnya, sungai dan waduk menjadi dangkal. Seperti halnya kekeringan, saat musim hujan, daya tampung pun berkurang karena sedimentasi," terangnya. 

Walau tidak dapat memastikan berapa persen turunnya pasokan listrik PLTA akibat sedimentasi dan kekeringan, Novy memperkirakan angkanya sekitar 50 persen.

"Kami harap, Program Citarum Harum, yang digelorakan pemerintah, menjadi upaya untuk menjaga dan mengembalikan kondisi lingkungan. Harapannya, program itu meningkatkan daya serap dan menaikkan baku mutu air," tutupnya.

Editor: Erwin Adriansyah

Komentar