Duuuh... Rupiah Terkoreksi Lagi

duuuh-rupiah-terkoreksi-lagi Petang ini, rupiah terkoreksi lagi menjadi Rp 14.162 per dolar AS.. (Ilustrasi/net)

PINDAINEWS, Jakarta -- Sejak awal pekan ini, rupiah benar-benar tidak berdaya. Bukti terkini, pada penutupan transaksi antarbank, Selasa (23/6/2020) petang, terkoreksi lagi. 

Petang ini, rupiah drop 12 poin atau 0,08 persen. Kondisi itu menyebankan rupiah berada pada level Rp 14.162 per dolar Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, posisi rupiah Rp 14.150 per dolar AS.

Saat pembukaan transaksi, Selassa (23/6/2020) pagi, rupiah melemah, yaitu berada pada posisi Rp 14.185 per dolar AS. Selama hari ini, pergerakan rupiah pada kisaran Rp 14.162-Rp 14.250 per dolar AS.

Pada hari yang sama, kurs tengah Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan, rupiah melemah. Posisinya Rp 14.265 per dolar AS. Hari sebelumnya, rupiah berada pada level Rp 14.209 per dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, berpendapat, perkembangan kondisi rupiah itu terjadi seiring dengan adanya potensi memanasnya lagi hubungan antara AS dan China.

Dia menyatakan, pasar merespon pernyataan Penasihat Perdagangan AS, Peter Navarro, bahwa perjanjian damai dagang AS-China usai. "Pertengahan Januari 2020, AS-China meneken kesepakatan dagang fase pertama di Washington. Tapi, adanya pernyataan Navarro, sepertinya tidak ada fase berikutnya," ujarnya. 

Dia menyatakan, saat ini, dunia menyikapi masalah yang tidak kalah peliknya oleh Covid-19 yaitu friksi AS-China. Bukan tidak mungkin, tuturnya, trade war jilid II terjadi lagi,

Faktor lainnya, sambung Ibrahim, tentu saja masih soal pandemi Covid-19. The World Health Organization (WHO) melaporkan adanya kenaikan rekor kasus Covid-19 secara global. Di antaranya, sebut dia, terjadinya kenaikan infeksi di negara bagian selatan dan barat AS, termasuk Brasil, cukup signifikan. Bahkan, katanya, mencapai rekor tertinggi.

Faktor internal, jelas Ibrahim, berkenaan dengan kebijakan pemerintah yang mengurangi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020, yang semula minus 0,4-2,3 persen menjadi minus 0,4-1 persen, yang mengacu pada proyeksi terbaru lembaga-lembaga keuangan dunia.

The World Bank memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sebesar nol persen. Sedangkan The Asian Development (ADB) merevisi pertumbuhan ekonomi, yang awalnya 2 persen menjadi minus 1 persen. 

Pada April 2020, sahut Ibrahim, The International Moneter Fund (IMF) juga menyampaikan, bahwa ekonomi Indonesia tumbuh 0,5 persen. "Prediksi IMF lainnya, pada 2021, pertumbuhan ekonomi Indonesia melebihi 8 persen," tutupnya.


Editor: Erwin Adriansyah

Komentar