Akhir Pekan Ini, Rupiah Kian Terperosok

akhir-pekan-ini-rupiah-kian-terperosok Akhir pekan ini, rupiah merosot lagi, menjadi Rp 14.523 per dolar AS.. (ilustrasi/net)

PINDAINEWS, Jakarta -- Selama satu pekan terakhir, kondisi rupiah sangat tidak menggembirakan. Pada penutupan transaksi antarbank akhir pekan ini, Jumat (3/7/2020) petang, rupiah kian terperosok.

Rupiah merosot 145 poin atau 1,01 persen. Akhir pekan ini, posisi rupiah menjadi Rp 14.523 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi sebelumnya, Rp 14.378 per dolar AS.

Saat pembukaan transaksi, Jumat (3/7/2020) pagi pun, rupiah anjlok. Saat itu, posisinya Rp 14.338 per dolar AS. Selama hari ini, pergerakan rupiah pada kisaran Rp 14.338-Rp 14.587 per dolar AS.

Begitu pula dengan kurs tengah Bank Indonesia (BI). Hari ini, kurs tengah BI menunjukkan rupiah terkulai, yaitu menjadi Rp 14.566 per dolar AS. Hari sebelumnya, rupiah berada pada level Rp 14.516 per dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, berpendapat, terperosoknya rupiah terjadi karena bertambahnya kasus Covid-19. "Pasar condong terhadap pernyataan presiden dan bertambahnya pandemi Covid-19 harian. Itu menyebabkan pasar apatis," tandasnya.

Apatisnya pasar itu, terangnya, membuat investasi asing yang terparkir pada pasar dalam negeri kembali keluar. Ibrahim menuturkan, derdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, sejak Kamis (2/7/2020) pukul 12.00 WIB hingga Jumat (3/7/2020) siang, terjadi penambahan 1.301 orang positif Covid-19. Hal itu membuat, secara akumulasi, kasus positif Covid-19 menjadi 60.695 kasus.

Selama 11 hari terakhir, sambungnya, penambahan kasus COVID-19 di Indonesia selalu melebihi 1.000 per hari. Selama 14 hari terakhir, kata dia, rata-rata penambahan kasus sebanyak 1.188 orang per hari. "Jumlah itu, lebih banyak daripada 14 hari sebelumnya, yaitu 996 orang per hari," ucapnya.

Secara bersamaan Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo, kemungkinan besar, menerbitkan beberapa kebijakan-kebijakan kurang populer. "Kebijakan itu bisa berupa reshuffle kabinet. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, membubarkan lembaga," katanya.

Lunglainya rupiah, tambah dia, juga dipengaruhi faktor eksternal. Ibrahim mengemukakan, pasar globgal pun mengkhawatirkan gesekan diplomatik antara AS dan China, termasuk yang berkenaan dengan kebebasan sipil di Hong Kong.

Editor: Erwin Adriansyah

Komentar