Emil Ingin Akses Penghubung KCIC Segera Terbangun

emil-ingin-akses-penghubung-kcic-segera-terbangun Proyek pembangunan jalur kereta cepat Bandung-Jakarta.. (antaranews.com)

PINDAINEWS, Bandung --   Ketersediaan sarana transportasi massal yang mumpuni, bisa menopang berbagai aktivitas, terutama sektor ekonomi. Karenanya, guna mempercepat pergerakan orang dan logistik, pemerintah mencanangkan pembagunan PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) rute Bandung-Jakarta.

Namun, hingga kini, masih banyak hal yang menjadi kendala KC Bandung-Jakarta itu. Satu di antaranya, berkenaan dengan jalur yang menghubungkan Stasiun Tegalluar dengan pusat Kota Bandung.

Melansir Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, mengemukakan, rencana pembangunan jalur double track Light Rail Transit (LRT) yang merupakan akses Stasiun Tegalluar-Kota Bandung belum ada kepastian.

"Jalur penghubung Stasiun Tegalluar-Kota Bandung, idealnya, harus segera ada putusannya. Soalnya, hingga kini, belum ada kejelasan tentang akses penghubung proyek Kereta Cepat Bandung-Jakarta," tandas Emil, sapaan akrabnya, belum lama ini.

Padahal, kata Wali Kota Bandung ini, pembangunan kereta cepat itu merupakan bagian Proyek Strategis Nasional (PSN) Jabar. Jika terealisasi, lanjutnya, terdapat empat stasiun pemberhentian. Yaitu, sebutnya, Stasiun Halim, Karawang, Walini, dan Tegalluar di Kabupaten Bandung.

Emil menegaskan, pihaknya ingin pengerjaan akses dan sarana penunjang KCIC segera bergulir. Target realisasinya, ucap dia, pada akhir tahun ini, mencapai 70 persen.

Dia menjelaskan, jalur kereta cepat Jakarta-Bandung sepanjang 142,3 kilometer itu bisa menjadi pendukung hadirnya tiga pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jabar. Yaitu, ucapnya, Transit Oriented Development (TOD) alias pengembangan. 

"Ini mengintegrasikan desain ruang kota untuk menyatukan orang, kegiatan, bangunan, dan ruang publik berkonektivitas mudah di Karawang, Walini, dan Tegalluar," paparnya.

Kehadiran Kereta Cepat Bandung-Jakarta pun, lanjutnya, bisa mempersingkat waktu tempuh dua kota itu. Secara normal, jelasnya, sekitar 130 menit. Akan tetapi, apabila menggunakan kereta cepat ini, sambungnya, waktu tempuhnya menjadi sekitar 36 menit.

Meski begitu, Emil menegaskan, pihaknya mendukung putusan pemilihan moda transportasi terintegrasi yang dibangun pemerintah pusat selama memudahkan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Editor: Erwin Adriansyah

Komentar