Meski Diterpa Pandemi, PermataBank Torehkan Tren Positif

meski-diterpa-pandemi-permatabank-torehkan-tren-positif Triwulan III 2020, PermataBank catat kinerja positif.. (antaranews.com)

PINDAINEWS -- Sejak hampir tujuh bulan lalu, wabah Covid-19 melanda Indonesia. Tentu saja, hal itu sangat berdampak pada berbagai aspek, tidak terkecuali perekonomian.

Meski pada masa pandemi, ternyata, industri jassa keuangan yang merupakan anak perusahaan PT Astra International Tbk, PT PermataBank Tbk, mampu menorehkan tren kinerja yang positif. Salah satu indikatornya terlihat pada catatan pendapatan operasional.

Hingga triwulan III 2020, PT PermataBank Tbk meraup pendapatan operasional sebelum pencadangan bernilai triliunan rupiah. "Nilainya, Rp 2,4 triliun. Angka itu 20,4 persen lebih besar daripada periode sama tahun lalu," tandas Direktur Utama PT PermataBank Tbk, Ridha DM Wirakusumah, kepada Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara,  Kamis (29/10/2020).

Ridha menjelaskan, pencapaian itu berkat dukungan permodalan yang sangat kuat. Selain itu, sambungnya, juga karena kuat dan terjaganya likuiditas.

Tren positif pendapatan operasional sebelum pencadangan itu, lanjutnya, merupakan kontribusi pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 8,6 persen, termasuk pendapatan non-bunga sebesar 9,0 persen.

Kinerja moncer PT PermataBank Tbk lainnya, kata Ridha, juga diiringi oleh perbaikan rasio marjin bunga (Net Interest Margin-NIM) menjadi 4,4 persen.

Tidak itu saja, ucap Ridha, pihaknya pun mencatat adanya perkembangan Cost to Income Ratio (CIR) sebesar 59,8 persen. Angka itu, terang dia, lebih baik daripada posisi periode sama 2019, yang besarnya 63,6 persen.

"Ini sesuai dengan terjadinya kenaikan transaksi digital selama 2020, karena meningkatnya aktivitas nasabah di dalam rumah selama masa New Normal," jelas Ridha.

Ridha mengungkapkan, meningkatnya volume transaksi digital tercermin pada aktivitas mobile banking,  yakni sebesar 69 persen. Cermin lainnya, sambung dia, yaitu pada Application Programming Interface (API), yang meningkat 400 persen. 

Pada sisi lain, menyikapi efek Covid-19, Ridha membeberkan, pada periode triwulan III 2020 ini, pihaknya menerapkan kebijakan biaya pencadangan turunnya kualitas aset. Nilainya, ungkap dia, cukup signfikan, yakni Rp 1,86 triliun.

Editor: Erwin Adriansyah

Komentar