Ajay Diduga Terima Uang Suap Rp1,661 Miliar dari Tersangka HY

ajay-diduga-terima-uang-suap-rp1661-miliar-dari-tersangka-hy Wali Kota Cimahi, Ajay M. Priatna. (net)
PINDAINEWS-- Wali Kota Cimahi, Ajay M. Priatna (AJM) diduga telah menerima uang suap sebesar Rp1,661 miliar terkait perizinan Rumah Sakit Umum (RSU) Kasih Bunda Kota Cimahi, pada tahun anggaran 2018-2020.

Ajay telah menerima uang secara berkala dari Komisaris RSU Kasih Bunda Hutama Yonathan (HY) yang telah ditetapkan sebagai tersangka.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan bahwa AJM telah menerima Rp1,661 miliar dari kesepakatan awal Rp3,2 miliar. Selain Ajay, KPK juga telah menetapkan Komisaris RSU Kasih Bunda Hutama Yonathan (HY) sebagai tersangka.

"Pemberian kepada AJM telah dilakukan sebanyak lima kali di beberapa tempat hingga berjumlah Rp1,661 miliar dari kesepakatan Rp3,2 miliar," kata Ketua KPK Firli Bahuri saat jumpa pers di Gedung KPK seperti dilansir LKBN Antara, Sabtu (28/11/2020).

Firli menjelaskan bahwa pemberian itu sejak 6 Mei 2020, sedangkan pemberian terakhir pada tanggal 27 November 2020 sebesar Rp425 juta.

Dalam konstruksi perkara, kata Firli, pada tahun 2019 RSU Kasih Bunda melakukan pembangunan penambahan gedung.

Selanjutnya, diajukan permohonan revisi izin mendirikan bangunan (IMB) kepada Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Cimahi.

"Untuk mengurus perizinan pembangunan tersebut, HY selaku pemilik RSU Kasih Bunda bertemu dengan AJM selaku Wali Kota Cimahi di salah satu restoran di Bandung," ucapnya.

Pada pertemuan tersebut, kata dia, Ajay diduga meminta sejumlah uang Rp3,2 miliar, yaitu sebesar 10 persen dari nilai rencana anggaran biaya (RAB) yang dikerjakan oleh subkontraktor pembangunan RSU Kasih Bunda senilai Rp32 miliar.

Penyerahan uang disepakati akan diserahkan secara bertahap oleh CT selaku staf keuangan RSU Kasih Bunda melalui YR selaku orang kepercayaan Ajay.

"Untuk menyamarkan adanya pemberian uang kepada AJM tersebut, pihak RSU Kasih Bunda membuat perincian pembayaran dan kuitansi fiktif seolah-olah sebagai pembayaran pekerjaan fisik pembangunan," kata Firli.

Editor: Pesa S

Komentar