Rubaci, Olahan yang Melejit Dimasa Pandemi Covid-19

rubaci-olahan-yang-melejit-dimasa-pandemi-covid-19 Rujak Baso Kacida. (Trie Widiyantie/PindaiNews)
PINDAINEWS, Bandung -- Ketika banyak pengusaha atau pebisnis yang mengalami gulung tikar dimasa pandemi, sebaliknya founder Rujak Baso Kacida (Rubaci) sukses meraup keuntungan berlipat. Bahkan, omset yang diraihnya mencapai puluhan juta rupiah per bulannya. 

Itulah kesuksesan pebisnis kuliner asal Bandung, amanda di tengah pandemi Covid-19. Kepada wartawan ia mengaku apa yang diraihnya itu di luar dugaan. 

Sejak memulai usahanya pada tahun 2016, justru dimasa pendemi omsetnya naik luar biasa. Padahal modal awal yang ia keluarkan hanya Rp 500.000.  

Untuk produknya sendiri, Amanda menuturkan, cita rasa Rubaci memiliki keunikan. Bahkan, dirinya menjadi pelopor untuk jenis makanan ini. Untuk bumbu yang digunakan juga berasal dari rempah-rempah asli. Itulah yang membuat Rubaci dilirik para pecinta kuliner. 
"Jadi rubaci ini adalah rujak baso daging sapi, kita buat teksturnya berbeda dari baso yang lain, kita bikin sendiri atau home made. Rasa yang saya tawarkan beragam ada sesasi rasa asam manis, pedas, terus diberi toping kacang tabur," ungkapnya, Minggu (17/1/2021). 

Kenikmatan Rubaci tak berhenti sampai disitu, isi per kemasannya ia beri batagor kering, kemudian berikan perasan jeruk. "Kita namai rujak baso itu karena sensasinya seperti makan rujak, tapi untuk rasanya sendiri beda dengan kita makan rujak buah," tambahnya. 

Selain itu, Rubaci juga memiliki produk lain, seperti baso ngojay itu baso kuah kaldu. Sebagai alternatif untuk orang yang tidak suka pedas. Sedangkan penyuka pedas ada kuah seblak, semua terbuat dari bumbu olahan. Itulah kenapa Rubaci  bisa dibilang pelopor rujak baso.

Lebih jauh Amanda menuturkan, produk yang dijual juga masuk dalam kategori ekonomis. "Harganya itu vareatif, dari 20-30 ribu," tuturnya.‎
Amanda juga mengatakan, masa pandemi menjadi berkah tersendiri bagi usaha Rubaci. Menurutnya, di masa pandemi Covid-19 ini omset yang didapat daru usahnya mengalami lonjakan omset hingga 60 juta - 100 juta dalam sebulan.

"Sejak pandemi ini memang di luar dugaan kita, justeru kita mengalami peningkatan penjualan sampai, beberapa kali lipat, dari semenjak bulan april sampai desember,  Paling besar omset kita itu, sekitar 60 sampai 100 juta," ungkapnya.

Ia menambahkan, sebelum masa pandemi omset bulanan hanya berkisar di angka Rp. 5.000.000 (Lima Juta Rupiah). "Di ‎awal kan modal kita itu 500 ribu, di bulan pertama omset kita ada 5 juta, dan puncaknya april Desember 2020 ini," tambahnya.

Untuk pemasaran, ia menyampaikan, produk Rubaci telah dipesan oleh pelanggan dari seluruh Indonesia. Bahkan, ada pihaknya telah memenuhi pesanan dari Luar Negeri.

‎"Penjualan kita ini ke seluruh indonesia sudah melakukan pengiriman, terus ada juga ke beberapa negara ke asia, seperti malaysia Singapura, Hongkong, dan Taiwan," ujarnya. 

Amanda membeberkan, kejelian dalam melihat peluang merupakan kunci dari suksesnya usaha Rubaci. Menurutnya, masa pandemi Covid-19 tidak menjadi halangan dari usahanya. ‎"Kita memiliki strategi, melihat peluang, jadikan ancaman itu sebagai motivasi kita, banyak merangkul bebeberapa usaha usaha kecil, seperti reseller, kita konsepnya simbiosis mutualisme," imbuhnya lagi. 

Menurutnya, saat ini pihaknya masih mengandalkan penjualan berbasis elektronik. Menurutnya, tahun 2021 mendatang pihaknya akan membuka gerai di Kota Bandung. ‎"Kita sekarang ini lewat online, lewat E commerce, instragram dan shoopee, di tahun depan ini ada kita udah mulaibuka tempat untuk dine in karena memang banyak permintaan dari pasar," tandasnya.

Editor: Pesa S

Komentar