Merapi Menggeliat, Alami 24 kali Gempa Guguran

merapi-menggeliat-alami-24-kali-gempa-guguran Hari ini, Merapi mengalami 24 kali gempa guguran.. (antaranews.com)

PINDAINEWS -- Pada Sabtu (23/1/2021), Gunung Merapi menggeliar. Karenanya, warga sekitar gunung vulkanik yang menjadi salah satu yang teraktiff di dunia itu wajib waspada dan berhati-hati.

Melansir Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan, hari ini, Merapi mengeluarkan 17 guguran lava pijar berjarak luncur 300-500 meter.

Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, menjelaskan, berdasarkan pengamatan hari ini pukul 00.00-06.00 WIB, terjadi guguran lava pijar yang meluncur arah barat daya atau hulu Kali Krasak dan Boyong.

Selama periode pengamatan itu, lanjutnya, gunung berketinggian 2.930 meter yang berlokasi di perbatasan Jateng-Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta ini pun mengalami 24 kali gempa guguran beramplitudo 4-23 milimeter selama 18.3-84.8 detik.

"Selain itu,  juga terjadi gempa hembusan sebanyak 4 kali beramplitudo 4-6 milimeter selama 12.4-18.4 detik," tandas Hanik.

Dia menjelaskan, pengamatan pihaknya, saat itu, asap kawah tebal berwarna putih berintensitas sedang setinggi 50 meter di atas puncak kawah 

"Dalam pengamatan periode Jumat (22/1/2021) pukul 18.00-24.00 WIB, Merapi meluncurkan guguran lava pijar sebanyak 12 kali yang berjarak luncur maksimum 300-600 meter menuju barat daya," sambungnya.

Hanik menyatakan, pihaknya berkesimpulan, berdasarkan pengamatan selama sepekan terakhir, yakni 15-21 Januari 2021, aktivitas vulkani Merapi masih cukup tinggi. Bentuknya, jelas dia, berupa aktivitas erupsi efusif.

"Kami mempertahankan status Merapi pada Level III atau Siaga. Potensi bahayanya yaitu guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya. Kawasan itu meliputi Sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, tambahnya, lontaran material vulkanik bisa menjangkau radius 3 kilometer dari puncak," urainya.


Editor: Erwin Adriansyah

Komentar