Pandemi, Industri Film Tanah Air Makin Terpuruk

pandemi-industri-film-tanah-makin-air-terpuruk Ilustrasi industri film. (net)

PINDAINEWS--Setahun Indonesia didera pandemi Covid-19, industri film tanah air saat ini tengah terancam terpuruk. Kalangan sineas  ramai-ramai surati Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar negara turun tangan memberikan dukungan penuh agar industri perfilman tetap hidup.

Surat terbukatersebut salah satunya disampaikan sineas Mira Lesmana melalui akun twitternya @Mirles, dan ditujukan langsung ke akun resmi milik Presiden Jokowi @jokowi.

"SURAT UNTUK PRESIDEN 

Film Indonesia milik kita semua, menjadi sahabat di banyak waktu, merekam banyak peristiwa bangsa. Kami ingin kembali bisa berkarya dan menginspirasi. Kami memohon dukungan Bapak Presiden @jokowi. Dan seluruh rakyat Indonesia."demikian surat terbuka tersebut.

Dikutip dari LKBN Antara, surat terbuka itu diunggah pula oleh insan film lainnya pada saat bersamaan, seperti Ernest Prakasa, Joko Anwar, Hanung Bramantyo, Mawar Eva De Jong, Syakir Daulay, Zaskia Adya Mecca, Dian Sastrowardoyo, dan Adipati Dolken.

Mira Lesmana sebagai salah satu sineas yang ikut melayangkan surat ini mengatakan tujuan utama dari gerakan tersebut adalah untuk mengingatkan pemerintah bahwa industri film juga sama terpuruknya dengan industri yang lain saat pandemi COVID-19.

Industri perfilman tanah air dinilai sama pentingnya dengan bidang lain dan kehadiran film sangat penting untuk eksistensi sebuah bangsa, apalagi dalam kurun waktu 4 atau 5 tahun belakangan, nama Indonesia cukup berjaya di pasar internasional.

"Kalau kita tidak diberi bantuan pernapasan, kita bisa terpuruk dan apa yang sudah kita capai empat tahun ini akan sia-sia, padahal itu semua hasil kerja keras. Jadi sebenarnya kita ingin memberitahu semua bahwa ini sedang parah banget, penurunan bioskop aja itu 97 persen sejak pandemi," demikian Mira saat dikonfirmasi Antara, pada Sabtu (6/3/2021).

Pembukaan bioskop pada Oktober 2020 tidak mendatangkan perubahan yang signifikan bagi pendapatan industri film. Sebab masih banyak stigma negatif untuk datang ke bioskop, seperti protokol kesehatan yang tidak aman.

Ongkos produksi untuk menggarap sebuah film saat pandemi pun tidak murah, sebab ada pengeluaran tambahan untuk biaya protokol kesehatan. Tidak ada produksi film, artinya tidak akan ada film yang bisa ditayangkan di bioskop dan lama-lama bioskop bisa tutup secara permanen.

"Jadi ada stigma fear factor-nya, itu kan saling berhubungan bahwa negara harus memberi kenyamanan bagi kita semua baik untuk yang bekerja dan menonton," katanya.

Fakta ini membuat Mira dan juga insan film lainnya berpendapat bahwa industri film harus diberikan dukungan nyata dari pemerintah seperti subsidi dan stimulus untuk pemulihan ekonomi nasional.

"Kita bukannya tidak mau mempertahankan ini semua, jadi butuh dukungan dari pemerintah untuk subsidi, stimulus, apakah itu dari pemulihan ekonomi nasional atau bentuk-bentuk lain seperti pengurangan pajak, apapun itu harus dibuat komperehensif termasuk menyuarakan kampanye untuk merasa aman ke bioskop dan merasa aman bekerja," kata Mira.

Editor: Haris Pam

Komentar