KKP Dalami Kejadian Ikan Paus Terdampar Massal di Pesisir Indonesia

kkp-dalami-kejadian-ikan-paus-terdampar-massal-di-pesisir-indonesia Mamalia laut jenis ikan paus pilot yang terdampar secara massal di perairan Madura. (net)

PINDAINEWS--Ditjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendalami penyebab sejumlah mamalia laut jenis ikan paus yang terdampar secara massal di Indonesia.

Tim Ditjen PRL terjun langsung ke perairan Madura, di mana terdapat banyak mamalia laut yang terdampar berjenis paus pilot. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono mengarahkan jajarannya untuk memastikan kelestarian biota laut dan keberlanjutan populasinya untuk kesejahteraan bangsa dan generasi yang akan datang. Pasalnya, mamalia laut merupakan biota laut yang terancam punah dan statusnya telah dilindungi penuh secara nasional dan internasional.

Sementara Dirjen PRL, Tb. Haeru Rahayu dalam Webinar tentang Mamalia Laut Terdampar Massal di Indonesia, yang digelar pada Kamis lalu, menjelaskan bahwa perairan Indonesia merupakan salah satu jalur migrasi mamalia laut (paus, lumba-lumba, duyung) dunia. Dari 90 jenis mamalia laut yang ada di dunia, 35 jenisnya ada di Indonesia.

“Salah satu ancaman terhadap mamalia laut di Indonesia adalah banyaknya mamalia laut yang terdampar di wilayah perairan Indonesia dari waktu ke waktu,” ujar Tebe, sapaannya, dikutip dari laman resmi KKP, Minggu (7/3/2021).

Data KKP yang dihimpun oleh Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (Dit. KKHL) mencatat pada tahun 2015 terjadi peristiwa terdampar 103 ekor mamalia laut, kemudian tahun 2016 tercatat sebanyak 255 ekor, tahun 2017 ditemukan sebanyak 143 ekor, tahun 2018 sebanyak 154 ekor, tahun 2019 sebanyak 142 ekor, dan tahun 2020 sebanyak 107 ekor.

Sedangkan di tahun 2021 hingga Februari telah tercatat 66 individu mamalia laut yang terdampar, termasuk kasus terdamparnya 52 ekor Paus pilot di Desa Patereman, Modung, Bangkalan, Madura.

Tebe menjelaskan, kecepatan dan ketepatan dalam penanganan setiap kejadian terdampar hidup menjadi hal yang sangat penting dan berdampak besar terhadap keselamatan biota laut tersebut. Meskipun demikian Tebe berpesan kepada para relawan di lapangan agar tetap mengutamakan keselamatan para responder saat melakukan upaya penanganan di lapangan.

“Mengetahui penyebab kejadian mamalia laut terdampar sangat penting untuk penanganan ke depan. Karenanya, saya mengajak para pakar dari Unair, IPB, WSI, RASI, dan Flying Vet untuk mendiskusikan fenomena ini,” jelasnya.

Editor: Haris Pam

Komentar