Tb. Topan: Perselingkuhan Dipublikasi, Maka Anak Jadi Korban

tb-topan-perselingkuhan-dipublikasi-maka-anak-jadi-korban Tokoh Pemuda Jawa Barat, Tb. Topan Lesmana. (Istimewa)

PINDAINEWS, Bandung--Maraknya pemberitaan kasus rumah tangga akhir-akhir ini yang menjadi konsumsi publik setelah ditayang di berbagai media membuat prihatin sejumlah kalangan, baik itu kalangan ibu rumah tangga, para psikolog, dan juga para tokoh agama. 

Setelah muncul ke permukaan dan hingga kini kasusnya masih ramai dibicarakan yaitu kisruh rumah tangga pengacara ternama Hotma Sitompul dan istrinya Dessire. Sekarang muncul lagi kasus rumah tangga yang menimpa Guru Besar Unpad, Profesor Muradi dengan yang pihak diduga istri sirinya, Era Setyowati (Siera).

Menanggapi kasus rumah tangga yang menjadi konsumi publik ini, tokoh pemuda Jawa Barat, Tb. Topan Lesmana menyampaikan sikapnya. Tb. Topan merupakan tokoh pemuda yang aktif di beberapa organisasi kepemudaan, dan pernah menjabat Ketua KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Kabupaten Bandung, serta sejumlah organisasi lainnya.

“Berangkat dari keprihatinan pemberitaan media masa baik itu media mainstream maupun media sosial, saya sangat menyayangkan kalau berita soal keluarga ini dijadikan konsumsi publik, seharusnya berita seperti ini tidak perlu dibesar-besarkan,” ungkapnya saat berkunjung ke Redaksi PINDAINEWS, Rabu, (7/4/2021).

Menurutnya, dengan dibesar-besarkannya masalah ini, akan banyak pihak yang meneguk keuntungan di balik pemberitaan yang ada. Sebab, dengan kemunculannya di pemberitaan dan sekiranya sesorang itu berprofesi sebagai pejabat, maka tidak menutup kemungkinan akan dipakai oleh pesaingnya untuk menjatuhkan reputasinya. 

Lebih lanjut Topan Lesmana, yang juga salah satu Pengurus Organisasi Kepemudaan Jawa Barat ini mengatakan, selain dipakai untuk menjatuhkan dari pemberitaan yang ada, maka yang menjadi korban selanjutnya adalah keluarg, terlebih jika yang bersangkutan sudah mempunyai anak. 

"Kasihan kepada anak dan keluarganya, karena jejak digital dari pemberitaan tidak akan bisa terhapus sampai kapanpun," tegasnya.

Menyoroti soal kasus Prof Muradi, ia pun mengaku merasa prihatin terutama dampak terhadap keluarganya. Perseteruan antara Muradi dan Sierra ini seharunya cukup di musyawarahkan secara internal, tanpa harus melibatkan media. 

Kalaupun ingin memakai jasa pengacara untuk menengahi, menurutnya sangat dipersilahkan tetapi dengan catatan pengacara yang mempunyai hati nurani. Terpenting, walaupun kedua orang tuanya berseteru, tetapi keluarga terutama anak tetap harus menjadi prioritas tangung jawab dunia dan akherat. 

"Coba bisa dibayangkan kalau nanti si anak besar dan membaca media online yang memberitakan gugatan ibu kandungnya terhadap “diduga” bapak kandung anak tersebut untuk menuntut biaya pendidikan hingga lulus kuliah anak tersebut. Sah saja seorang ibu memperjuangkan masa depan anaknya, tapi jangan sampai salah memillih langkah hukum, apalagi sampai salah memilih penasehat hukum. Dampak salah memilih langkah dan penasehat hukum ini adalah semakin meluas permasalahan yang dibahas," ungkap Topan.

Topan pun berharap kepada media yang ada untuk bisa lebih bijak dalam menyiarkan pemberitaan. Jangan sampai hanya karena ingin menaikan traffic pembaca, lalu berita yang seharusnya mempunyai nilai edukasi ditinggalkan dan malah mengangkat pemberitaan yang kurang mendidik.

“Ayolah kita juga menjadi pembaca yang bijak dan pintar, sudah bisa memilih dan memilah mana berita yang baik dan mana berita sampah,” pungkasnya.

Editor: Haris Pam

Komentar