Alat Uji Masker, Salah Satu Kontribusi ITB dalam Pencegahan COVID-19

alat-uji-masker-salah-satu-kontribusi-itb-dalam-pencegahan-covid-19 Alat uji masker yang dikembangkan Institut Teknologi Bandung (ITB).. (antara)

PINDAINEWS, Bandung--Selain mencuci tangan dan menghindari kerumunan, penggunaan masker menjadi salah satu keharusan mendesak yang harus dipatuhi guna mencegah penularan virus corona atau SARS CoV-2. Masekr medis merupakan alat proteksi yang paling direkomendasikan untuk mencegah terpaparnya virus tersebut ke area paling sensitif, yaitu hidung dan mulut.

Selama ini, Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Laboratorium Kualitas Udara (LKU), Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ternyata turut berkontribusi dalam pengujian masker-masker selama pandemi COVID-19.

Kepala Laboratorium Kualitas Udara FTSL ITB Dr Ir Adyati Pradini Yudison, Rabu, mengatakan, laboratorium kualitas udara adalah laboratorium di bawah Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, lab ini mendukung program pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk itu, lab udara berusaha memberi pelayanan kepada masyarakat agar masyarakat mengetahui kualitas masker yang dipakai.

"Kita Kami mencoba untuk berkontribusi pada proses standardisasi masker. Pengujian masker ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat oleh LKU FTSL ITB," kata Pradini, seperti dilansir LKBN Antara, Rabu (7/4/2021).

Pradini menjelaskan, pengujian masker di lab tersebut sudah dilakukan sejak Agustus 2020. Saat itu, muncul ide dari alumni, dan ide tersebut kemudian diwujudkan oleh Ir Haryo Satriyo Tomo yang merupakan Manajer Teknis di LKU, dengan merakit alat uji dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia.

"Lab kualitas udara sudah mengajukan akreditasi untuk parameter uji masker ini, dan kami sedang menunggu hasilnya," ujarnya.

Institut Teknologi Bandung melalui Laboratorium Kualitas Udara (LKU), Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ikut berkontribusi dalam pengujian masker-masker selama pandemi COVID-19. ANTARA/HO-Dok Humas ITB.

Terdapat tiga parameter pada pengujian masker di LKU ITB, yaitu uji efektifitas filtrasi bakteri (BFE) untuk mengetahui sejauh mana masker menyaring bakteri dan mikroorganisme lainnya, pengujian efektifitas filtrasi partikel (PFE) untuk mengetahui daya saring partikel, dan pengujian daya tekan (untuk mengetahui sejauh mana masker nyaman digunakan dan tidak membuat sulit bernafas).

Dia menyebut sejak dibuka pengujian masker, hampir setiap hari ada perusahaan yang mengajukan permintaan pengujian dari dalam negeri untuk mengetahui kualitas masker mereka. Apabila tidak sesuai dengan standar, banyak perusahaan meningkatkan kualitasnya dan melakukan pengujian kembali. 

"Saya rasa keberadaan alat pengujian masker ini sangatlah berkontribusi pada pencegahan penyebaran COVID-19," katanya.

Salah satu parameter pengujian masker adalah dengan uji BFE atau pengujian daya tahan masker terhadap bakteri atau mikroba. Untuk itu, pengujian masker di ITB dilakukan dengan multidisiplin ilmu yaitu kolaborasi antara Lab Kualitas Udara dengan Laboratorium Mikrobiologi dan Teknologi Bioproses di bawah Fakultas Teknologi Industri (FTI).

Pengujian daya tahan masker terhadap mikroorganisme (bakteri) ini menggunakan biakan bakteri staphylococcus aureus. Bakteri tersebut dikembangbiakan khusus untuk keperluan pengujian. Pengujian tidak menggunakan virus sebab akan lebih rumit karena butuh sel inang agar virus dapat hidup dengan media sel hidup pula.

Editor: Haris Pam

Komentar