Maraknya Pengaduan Asuransi, Sikap OJK Harus Seperti Ini

maraknya-pengaduan-asuransi-sikap-ojk-harus-seperti-ini . (Ilustrasi/net)

PINDAINEWS -- Dalam beberapa waktu terakhir, beredar kabar bahwa pengaduan tentang produk asuransi cukup marak. Tentunya, kondisi itu harus menjadi perhatian serius, khususnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), selaku otoritas industri jasa keuangan (IJK) di tanah air.

Melansir Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, pengamat asuransi, Irvan Rahardjo, menyatakan, seiring dengan maraknya pengaduan masyarakat soal produk asuransi, sebaiknya, OJK harus tetap menjalankan peran dan fungsinya sebagai lembaga yang melindungi konsumen.

"Tiga fungsi utama OJK yaitu pengaturan, pengawasan, dan perlindungan," tandas Irvan, dalam Consumer Talk Ngabuburit - Masa Depan Perlindungan Konsumen Jasa Asuransi yang digelar Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Jumat (16/4/2021).

Akan tetapi, Irvan berpendapat, fungsi perlidungan terkesan kerap terlupakan. Padahal, jelasnya, ada beberapa upaya OJK untuk menjalankan fungsinya untuk melindungi konsumen. Yakni jelasnya, adanya berbagai fasilitas. Di antaranya, sebut dia, mediasi dan penyelesaian sengketa.

"Sayangnya, pada kenyataannya sikap OJK yang bisa membuat masyarakat tenang yang terlalu terlihat," sebut dia. 

Irvan menegaskan, butuh keberpihakan regulator terhadap kepentingan konsumen, khususnya, berkenaan dengan industri asuransi. Apalagi, sahut dia, asuransi termasuk industri yang berorientasi penjualan.

Karena berorientasi penjualan, lanjutnya, tidak heran, banyak asuransi yang berusaha menjual produknya sebanyak-banyaknya melalui berbagai cara dan saluran. 

Akan tetapi, lanjutnya, pada sisi lain, wawasan nasabah sangat terbatas. "Artinya, nasabah tidak banyak memahami informasi yang seharusnya, tetapi agen tidak mengungkapkan sepenuhnya apa yang menjadi risiko nasabah," jelas dia.

Karenanya, tegas dia, semestinya, OJK meningkatkan pengawasannya agar menertibkan praktik-praktik agen asuransi nakal. Hal itu juga sesuai amanat UU Asuransi. Yakni, ketentuan, tata cara dan praktik keagenan harus diatur oleh OJK.

"Yang terjadi saat ini adalah pengaturan oleh asosiasi terhadap agen-agen yang nakal. Permasalahannya, banyak agen yang berprestasi yakni berkontribusi kepada perusahaan. Situasi ini menyulitkan korporasi asuransi untuk menindak agen, yang juga menjadi tulang punggung mereka," urainya.

Maraknya pengaduan produk asuransi diakui OJK. Kondisi ini terjadi selama beberapa tahun terakhir. 

Secara rinci, OJK mencatat, pada 2019 terdapat 360 pengaduan. Tahun selanjutnya, jumlah pengaduan asuransi bertambah menjadi 593 pengaduan. Sedangkan triwulan I 2021, OJK menerima 273 pengaduan asuransi.

"Pengaduan masyarakat tentang industri asuransi terus bertambah. Mayoritas ketidaksesuaian penjualan (mis-selling), terutama produk asuransi yang berkaitan dengan investasi atau unit-linked oleh agen atau tenaga pemasar produk asuransi," ungkap Kepala Departemen Perlindungan Konsumen OJK, Agus Fajri Zam.


Editor: Erwin Adriansyah

Komentar