Budaya Jadi Strategi Jabar Perkuat dan Percepat Industri Pariwisata

budaya-jadi-strategi-jabar-perkuat-dan-percepat-industri-pariwisata Sebuah tradisi yang rutin dilakukan Keraton Kasepuhan Cirebon.. (antaranews.com)

PINDAINEWS, Bandung -- Di antara berbagai sektor ekonomi, pariwisata punya peran penting bagi Jabar. Karenanya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar terus melakukan berbagai cara agar kepariwisataan Tatar Pasundan kian terakselerasi sehingga lebih kuat dan berdaya saing.

Melansir Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, ada beberapa strategi yang disiapkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar sebagai upaya mengakselerasi dan memperkokoh daya saing industri kepariwisataan, demi terciptanya pertumbuhan ekonomi, sekaligus mengantisipasi penyebaran Covid-19.

"Kami punya sejumlah pilar sebagai strategi untuk mengakselerasi pariwisata dan kebudayaan," tandas Kepala Disparbud Jabar, Dedi Taufik.

Mantan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jabar ini mengungkapkan, pemerkuatan budaya menjadi satu di antaranya. Dia berpendapat, Jabar memiliki sejumlah zona budaya. Antara lain, sebutnya, Sunda Betawi, Sunda Priangan di wilayah Metropolitan Bandung dan sekitarnya, serta Sunda Cirebonan.

Strateginya, kata Dedi, pihaknya mengangkat seni dan budaya sebagai potensi dan kekuatan kepariwisataan, yang tahun lalu menyumbang Rp 3,3 triliun bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jabar, tersebut. Caranya, ungkap dia, melalui ekspansi budaya di masing-masing kabupaten-kota pada era pemulihan ekonomi. 

Tidak hanya budaya, Dedi meneruskan, Jabar pun memiliki potensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni. Karena itu, tegas dia, memperkuat SDM menjadi trik pihaknya demi terciptanya perkembangan sektor pariwisata.

Dedi melanjutkan, potensi budaya dan SDM itu perlu ditopang kekuatan lainnya, yakni konten destinasi. Jabar, jelas dia, punya beragam destinasi wisata. 

Di antaranya, sebut Dedi, wisata religi, alam, wisata buatan, kuliner, dan belanja. Akan tetapi, sambung dia, pada era recovery, prioritasnya adalah kepariwisataan berbasis alam. Dasarnya, kilah dia, kepariwisataan berbasis alam lebih cocok dengan kondisi pandemi Covid-19.

“Pemerkuatan industri kreatif lokal pun penting. Itu karena ada beberapa komoditas industri kreatif yang menjadi andalan. Seperti sinema (film), fashion, kuliner, dan kriya,” katanya.

Termasuk, tambahnya, pengembangan desa wisata. Saat ini, sebut Dedi, Jabar memiliki 215 Desa Wisata. Dia berpandangan, agar berdaya tarik dan berdaya saing, desa wisata wajib memiliki ciri khas dan keunikan. "Tidak hanya budaya, tetapi juga lainnya, seperti kerajinan, kondisi alam, dan sebagainya," sebutnya.

Yang tidak kalah pentingnya, sahut Dedi, adalah bagaimana memasarkan dan mempromosikan potensi-potensi wisata Jabar tersebut. 

Soal antisipasi penyebaran Covid-19, Dedi menyatakan, hingga kini, pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah kota-kabupaten. Di antaranya, berkaitan dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) secara ketat. 

Penerapannya, terang dia, tidak hanya berlaku bagi para wisatawan, tetapi juga pengelola kepariwisataan. Caranya, menerapkan pengetesaan kesehatan pada setiap destinasi wisata.


Editor: Erwin Adriansyah

Komentar