Sulit Hubungi Dokter, Telekonsultasi Jadi Solusi

sulit-hubungi-dokter-telekonsultasi-jadi-solusi Gubernur Jabar, Ridwan Kamil (kanan), saat peluncuran Pilkobar.. (antaranews.com)

PINDAINEWS, Bandung -- Dalam beberapa waktu terakhir, kasus positif Covid-19 di tanah air marak terjadi. Membeludaknya masyarakat yang terpapar, tidak hanya yang menjalani perawatan rumah sakit, tetapi juga isolasi mandiri, menyebabkan komunikasi atau konsultasi dengan dokter pun cukup sulit. 

Pasalnya, kalangan dokter pun disibukkan oleh aktivitas penanganan medis para pasien Covid-19. Karenanya, pemerintah langsung melakukan upaya-upaya strategis untuk menanganinya. Begitu juga dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar.

Satu upaya Pemprov Jabar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat berkaitan dengan Covid-19, yakni mengoperasikan Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jawa Barat (Pikobar). 

Kehadiran aplikasi ini untuk mempermudah masyarakat berkomunikasi dan berkonsultasi tentang segala hal yang berkaitan dengan Covid-19.

Melansir Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, mengakui bahwa tidak sedikit pasien yang menjalani isolasi mandiri yang tidak mengetahui secara rinci apa yang harus mereka lakukan.

Pada sisi lain, lanjut Emil, sapaan akrabnya, pihaknya  menerima informasi bahwa tidak sedikit masyarakat yang sulit menghubungi dokter, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), termasuk memperoleh obat-obatan. 

"Jadi, kami menginisiasi pengoperasian pelayanan telekomunikasi dan pengiriman obat gratis bagi masyarakat, khususnya, para pasien Covid-19," tandas mantan Wali Kota Bandung ini.

Emil berpendapat, pelayanan telekomunikasi isolasi mandiri Jabar menjadi penting. Hingga kini, ujarnya, melalui telekomunikasi, pihaknya menerima 25 ribu pesan hotline.

Dia menilai, perlu adanya dukungan dan edukasi bagi pasien Covid-19 agar lebih mengetahui apa saja yang harus mereka lakukan ketika menjalani isolasi mandiri dan mencegah klaster keluarga.

Inisiator Lapor Covid-19, Ahmad Arif, menambahkan, pihaknya sepakat bahwa masyarakat perlu memperoleh edukasi tentang apa yang harus mereka lakukan selama isolasi mandiri. Hal itu, jelasnya, sebagai salah satu upaya mencegah terjadinya klaster keluarga dan efek penyebaran Covid-19 lainnya.

"Dukungan sosial ekonomi, termasuk medis adalah hal penting. Banyak pasien isolasi mandiri tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, termasuk bagaimana mencegah agar tidak menjadi klaster keluarga, klaster lingkungan, dan seterusnya," papar Ahmad Arif.

Karena itu, Ahmad Arif menilai perlu adanya pendataan dan pemantauan yang kuat. Selain itu, keterlibatan pemerintah hingga level yang terkecil untuk mendukung pasien isolasi mandiri, juga tidak kalah pentingnya.


Editor: Erwin Adriansyah

Komentar