Perum Bulog Terancam Kerugian? Ini Penjelasan Budi Waseso

perum-bulog-terancam-kerugian-ini-penjelasan-budi-waseso Seorang warga membeli beras produk Perum Bulog.. (Adriansyah/PINDAINEWS)

PINDAINEWS -- Sebuah korporasi berlabel Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bukan berarti tidak dibayangi kerugian. Kabarnya, kini, ancaman kerugian membayangi Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog).

Mengutip sejumlah sumber, adanya ancaman dan potensi kerugian itu diakui Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso. Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) itu menyatakan, adanya potensi kerugian itu karena perbandingan penyaluran beras lebih rendah daripada biaya operasional, seperti penyerapan gabah dan beras petani dan perawatan.

Selama ini, kata Buwas, sapaan akrabnya, pihaknya memperoleh dana kredit yang bersuku bunga komersil. Selain itu, lanjut dia, hal cukup mendasar yang membuat pihaknya berpotensi mengalami kerugian yakni pangsa pasar hilang, utamanya, berkenaan dengan penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

Dia mengatakan, sejak terhentinya program bantuan sosial (bansos) beras bagi rakyat sejahtera (rastra) dan bergulirnya Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), pihaknya mengalami loss 2,5-2,6 juta ton per tahun, yakni berupa penyaluran beras CBP,  yang saat ini, hanya terbatas pada operasi pasar dan bancuan bencana alam, bervolume sekitar 850 ribu ton per tahun.

"Selain itu, kami tidak bisa menyalurkan CBP kecuali pemerintah menggulirkan program, misalnya bantuan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dan sejenisnya," papar Buwas.

Pada sisi lain, tambah dia, pihaknya memperoleh tugas menyerap hasil pertanian sebagai upaya pemenuhan CBP, yang volumenya 1-1,5 juta ton per tahun. "Nah, penyerapan ini menggunakan dana kredit perbankan yang bersuku bunga komersil," tukasnya.

Hal lainnya, imbuh dia, pihaknya harus mengalokasikan dana perawatan beras-beras yang tersimpan pada gudang-gudang penyimpanan, yang peruntukannya tidak khusus sebagai tempat menyimpan beras. Hal itu, kata dia, bisa membuat kualitas beras berkurang.

Editor: Erwin Adriansyah

Komentar