Jenderal Bintang Satu Tembaki Kucing? Ini Penjelasan TNI

jenderal-bintang-satu-tembaki-kucing-ini-penjelasan-tni . (Ilustrasi/net)

PINDAINEWS -- Belum lama ini, beredar sebuah rekaman yang viral. Yaitu dugaannya seorang petinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) menembak beberapa ekor kucing sampai mati di di Sekolah Staf Komando (Sesko) TNI Bandung.

Tentu saja, hal itu langsung direspon jajaran TNI.

Seperti apa tanggapannya?

Mengutip sejumlah sumber, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Angkatan Darat (AD) Prantara Santosa, Kepala Pusat Penerangan (Puspen) TNI, mengiyakan adanya dugaan penembakan beberapa ekor kucing oleh perwira TNI.

Yang mengejutkan, Mayjen) TNI AD Prantara Santosa menyatakan, kuat dugaan, pelaku penembakan beberapa ekor kucing itu yakni perwira tinggi TNI berpangkat Brigadir Jenderal (Brigjen).

"Dan Sekso (Komandan Sekolah Staf Komandi) TNI dan Tim Hukum TNI mengiyakan bahwa Brigjen TNI NA (anggota organik Sesko TNI), dugaannya, menembak beberapa ekor kucing." tandasnya.

Adanya dugaan penembakan beberapa ekor kucing itu,  jelasnya, pihaknya menindaklanjuti instruksi Jenderal TNI AD Andika Perkasa, Panglima TNI Jenderal TNI, untuk mengusut dugaan penganiayaan beberapa ekor kucing di lingkungan Sesko TNI Bandung.

Dugaan aksi tidak terpuji itu terjadi pada 16 Agsutus 2022 siang. Kuat dugaan, Brigjen TNI NA menemabki beberapa ekor kucing menggunakan senapan angin pribadinya.

Brigjen TNI NA, lanjutnya, membantah membenci kucing. berdalih, Dalih Brigjen TNI NA menembaki beberapa ekor kucing itu, lanjutnya, agar kebersihan dan kenyamanan lingkungan tempat tinggal atau tempat bersantap Perwira Siswa Sesko TNI tetap terpelihara.

Meski demikian, Tim Hukum TNI tetap memproses Brigjen TNI NA. Dasarnya, jelas dia Pasal 66 Undang Undang (UU) 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta Pasal 66A, Pasal 91B UU 41/2014 tentang Perubahan atas UU 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Informasinya, satu di antara enam ekor kucing yang dugaannya ditembaki oknum perwira tinggi TNI itu terselamatkan.

Editor: Erwin Adriansyah

Komentar