Ciremai Berkobar, Proses Pemadaman Api Terkendala

ciremai-berkobar-proses-pemadaman-api-terkendala . (Ilustrasi/net)

PINDAINEWS -- Terbukti, bahwa banyak daerah di Jabar yang masuk katagorai rawan bencana hidrometeorologi, satu di antaranya, kebakaran hutan-lahan (kahutla).

Terkini, lereng gunung vulkanik tertinggi di Jabar, Ciremei, diamuk si jago merah. Tentu saja, demi penyelamatan habitat dan ekosistem gunung berketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut itu, petugas gabungan bekerja keras.

Melansir sejumlah sumber, guna memadamkan api yang berkobar pada lereng Ciremai, sekitar 150 petugas gabungan yang terdiri atas unsur Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, dan sejumlah warga, bekerja keras.

Teguh Setiawan, Kepala Balai TNGC Kabupaten Kuningan, menyatakan, api masih berkobar pada lereng Ciremai. "Bersama masyarakat, kami masih terus bekerja keras memadamkannya," tandas Teguh Setiawan, Selasa (27/9/2022).

Dia meneruskan, kobaran api pada Ciremai mulai terpantau pada 25 September 2022 sekitar pukul 14.00 WIB. Lokasinya, sebut dia, Blok Ciletuk Kecamatan Pesawahan Kabupaten Kuningan.

Sebenarnya, ujar dia, pada 25 September 2022, pukul 19.30 WIB, petugas berhasil memadamkan si jago merah. Namun, pada 26 September 2022, petugas melihat lagi kepulan asap.

Ternyata, api berkobar pada kawasan Tegal Bodas. "Kebakaran terus meluas," sahut dia.

Untuk memadamkan api, ujarnya, pihaknya mengerahkan sejumlah peralatan, baik secara manual maupun moderen. Termasuk, sahut dia, jet shooter, mesin penyempot air, dan lainnya.

Memadamkan api pada lereng Ciremai, aku Teguh Setiawan, bukan perkara mudah. Petugas, sambung dia, mengalami kendala.

Penyebabnya, kawasan yang diamuk si jago merah termasuk daerah dataran tinggi, berbatu, semak belukar kering, dan tiupan angin yang cukup kencang.

Editor: Erwin Adriansyah

Komentar