Dulu 'Supermarket' Bencana, Kini Jabar Jadi 'Laboratorium' Bencana

dulu-supermarket-bencana-kini-jabar-jadi-laboratorium-bencana Ilustrasi. (Net)
PINDAINEWS, Bandung - Jawa Barat memiliki berbagai jenis potensi bencana sehingga dijuluki 'supermarket' bencana. Namun sebutan tersebut sekarang berubah menjadi 'laboratorium' bencana. Mengapa demikian?

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jabar, Muhammad Eko Damayanto mengatakan, Jabar punya potensi bencana tinggi, tapi di sisi lain juga banyak ahli bencana di sini. Hal tersebut bisa menjadi kekuatan dalam membangun budaya masyarakat tangguh bencana.

"Semua Bencana ada di sini tapi bencana besar menjadi potensi, kita ketahui dari sisi alam Jawa Barat pasti dari sisi kontur, geologi, jenis batuan itu bencana longsor jadi dominan. Kemudian perkembangan pembangunan, tata ruang dan air banjir jadi dominan juga," ujar Eko saat dihubungi, Jumat (15/3/2019).

Menurutnya, potensi tersebut harus dimanfaatkan sebaik mungkin melalui penelitian dan pengkajian sehingga Jabar bisa menjadi sumber rujukan. Sebab seperti diketahui bahwa belum ada teknologi yang dapat memprediksi kapan bencana terjadi.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini tengah menyusun Blue Print West Java Resilience Culture Province dalam rangka membangun budaya sadar bencana dan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Ada lima komponen yang dilibatkan yaitu Pemerintah, Dunia Usaha, Masyarakat, Media Massa dan Perguruan Tinggi.

Blue Print tersebut terus digodok dan ditargetkan pertengahan tahun ini sudah rampung, kemudian akan dijadikan sebuah kebijakan yang dirangkum dalam Peraturan Gubernur (Pergub).

Diakuinya, Jawa Barat akan menjadi provinsi pertama di Indonesia yang memiliki Pergub terkait ketangguhan menghadapi bencana. Seluruh kabupaten/kota di Jabar pun nanti akan merujuk terhadap Pergub itu.

"Tapi secara ketentuan setiap provinsi itu harus menyusun namanya rencana penanggulangan bencana. Kami akan buat dalam konteks yang agak berbeda, mudah mudahan bisa jadi contoh bagi daerah lain," pungkasnya.

Editor: Mohamad Taufik

Komentar